
Konser
26 Juni 2004
Mengabaikan travel warning, Linkin Park menyapa penggemarnya di Indonesia. Chester cs tampil dengan stamina prima. Dan Ancol pun bergetar!
"I woke in a dream today
To the cold of the stattttt………sst!!"
OOOPSS! Ribuan penonton yang sedang pemanasan untuk ber-headbangin' tiba-tiba harus mengerem gerakannya. Keriuhan konser terhenti. Semua mengira terjadi kesalahan pada sound system. "Someone tumbled down, please lift him up!" teriak Chester Bonnington, vokalis Linkin Park, ke arah kerumunan penonton. Seseorang memang terjatuh.
"Are you OK? Is everything OK?" tanya Mike Shinoda, rapper Linkin Park, begitu fans tadi berdiri. Melihat si fans baik-baik saja, Chester pun berseru: "If anybody near you fall, please lift him up, will ya?!!" Seruan itu langsung dijawab serempak oleh ribuan penonton. "OK!" Dan With You, lagu dari album "Hybrid Theory", pun dilanjutkan dan diikuti serempak oleh suara lautan penonton.
"…Even if you're not with me
I'm with you….I'm with youuuuu!"
Inilah yang terjadi di konser Linkin Park, Meteora World Tour 2004, di pantai Carnaval, Ancol, Ahad 13 Juni. Sebuah band besar berhenti beraksi karena penonton terdorong jatuh memang hanya terlihat di konser Linkin Park. Chester maupun Mike berkali-kali mengingatkan penonton agar mengangkat mereka yang tersungkur. "We will enjoy the show and have fun together!" teriak Chester. Moto Linkin Park: fans-oriented, memang bukan asal ngomong.
Bukti lain, mereka berani datang ke Indonesia. Padahal, dua hari sebelum konser, banyak yang meragukan kedatangan kelompok asal California, Amerika Serikat, ini. Hingga Sabtu, tiket seharga Rp 300.000 dan Rp 200.000 yang dicetak 40.000 lembar hanya laku 50%. Ini karena rumor bakal batalnya konser itu. Soalnya, ada travel warning dari Pemerintah Amerika untuk menghindari Indonesia menjelang pemilu 5 Juli. Toh, Linkin Park cuek. Rainy Noor dari Nephatya, promotor konser, sempat waswas. "Akhirnya mereka datang juga," katanya.
Linkin Park, yang sejak berdiri berusaha membangun citra sebagai band "cinta damai", melenggang masuk ke ruang konferensi pers di Hotel Borobudur dengan menebar tawa. Indonesia adalah negara pertama di Asia Tenggara yang menggelar Meteora World Tour 2004.
Ketika menggelar konser di Jepang dan minikonser di Malaysia, Linkin Park tersentuh oleh banyaknya fans dari Indonesia yang rela jauh-jauh datang untuk menonton mereka. "Kami sudah berjanji untuk datang, ya, kami datang," kata Brad Delson, si gitaris, cuek. "Lagi pula tanggal di tiket sudah tidak bisa diganti," kata Joe Hahn, ditimpali tawa cekikikan teman-temannya.
Maka, promotor pun bisa tersenyum. Soalnya, menjelang konser berlangsung, tiket pertunjukan laku hingga 95%. Tiket VIP seharga Rp 300.000 malah sold out. Sejak diumumkan bahwa Linkin Park sudah berada di Indonesia, fans pun bergegas memburu tiketnya. Di hari-H, penonton sudah mulai memasuki wilayah konser sejak pukul delapan pagi. Padahal, konsernya sendiri baru dimulai pukul tiga sore.
Kredo Linkin Park untuk memanjakan penggemar memang tidak percuma. Ribuan fans fanatik rela berjalan hingga dua kilometer ke arah venue. Mereka juga rela menunggu dari pagi hingga konser dimulai di lapangan terbuka pantai Carnaval. Padahal, hari itu, Ancol panasnya minta ampun!
Inilah konser yang berhasil mengumpulkan orang-orang yang berani tampil beda dari segala usia. Ada remaja lokal hingga remaja bule yang ditemani orangtuanya. Gadis-gadis manis berani hanya ber-tank top plus celana kargo kedodoran dengan spike belt-nya. Tak mau kalah, anak-anak cowok berdandan dengan piercing ala personel Linkin Park. Bagi mereka, gaya seperti ini sepertinya sudah wajib.
Jangan salah, di konser ini, bukan hanya mereka yang berani funky. Ibu-ibu dan bapak-bapaknya pun tak ketinggalan gaya. "Panas tak masalah, yang penting gaya tetap oke," kata Monika Susanti, 34 tahun, ibu muda yang mengantar tiga putranya untuk menonton. Monika hari itu mengenakan tank top press body hijau muda. Dilengkapi celana kargo selutut plus sneaker. Sepanjang konser, Monika tak mau kalah dengan anak-anaknya melafalkan lagu-lagu Chester cs.
Linkin Park tak membiarkan penontonnya menunggu terlalu lama. Pukul 15 lewat 10 menit, tanpa pengantar, enam cowok Linkin Park langsung menggegerkan penonton dengan Don't Stay dari album "Meteora". Lalu dilanjutkan dengan Lying From You, Papercut, Points of Authority, Runaway. Ketika memasuki lagu keenam, With You, Chester dan Mike memberi aba-aba untuk berhenti. "No smoking, no moshing, just have fun!" teriak Chester.
Ketika konser berlanjut, lagu digeber susul-menyusul. Step Up, Nobody’s Listening, It’s Going Down, From The Inside, dan seterusnya. Tak lupa pula mereka membawakan Somewhere I Belong dan Breaking the Habbit, lagu yang hingga saat ini masih menduduki tangga nomor satu rock chart. Sesekali, Mike maupun Chester menanyakan kondisi penonton.

Lautan manusia di depan panggung dua tingkat ukuran 18 x 12 meter itu sudah tersihir sejak awal. Mereka menurut apa kata Chester. Tak ada dorong-mendorong. Tak ada rusuh. Mereka mengikuti "ocehan" yang dilontarkan Mike. Chester dengan tiga karakter suara dan vokal Mike terdengar jernih di telinga penonton. Dentuman drum Rob Bourdon, cabikan gitar dan bas Brad Delson serta Phoenix Farrell, dan gesekan turntable DJ Joe Hahn pun nyaris tanpa jeda.
Tanah Ancol yang ditumpahi sinar matahari sore bergetar oleh entakan kaki penonton. Dhani Dewa yang terlihat di antara penonton kagum dengan performa para pemuda 20 tahun itu. "Saya pernah melihat konser mereka di Australia, tapi di sini jauh lebih gila. Sayang, konsernya kurang lama," kata Dhani, yang turut "gila" dan bermandi keringat.
"Top deh pokoknya, tak percuma mereka digembar-gemborkan sebagai band besar," kata Budjana, gitaris Gigi. Menurut Budjana, performa Linkin Park nyaris tanpa cela. "Mereka mainnya bersih banget," Budjana memuji. Di antara penonton juga terlihat Ira Wibowo dan Katon Bagaskara, Udjo Padhyangan Project, para peserta "Indonesian Idol", dan sejumlah artis lain.
Udjo yang bajunya basah kuyup terlihat bersemangat. "Baru kali ini gue nonton konser yang bikin gue kayak gini," kata Udjo, yang datang dengan teman-temannya. Janji personel Linkin Park untuk membuat show di Jakarta menyenangkan dan akan dikenang terbukti sudah. Konser pun ditutup dengan One Step Closer dari album "Hybrid Theory". "This is your last chance to get crazy!" tantang Mike dan Chester.
"….Everything you say to me
Takes me one step closer to the edge
And I'm about to break
I need a little room to breathe
Cause I'm one step closer to the edge
And I'm about to break…"
Dan tanah di Ancol pun makin bergetar lengkap dengan kepulan debunya! Ini konser Linkin Park!!!
Asmayani Kusrini
Lahir dari Taman Lincoln

LINKIN Park yang awalnya bernama Hybrid Theory itu dibentuk di sebuah studio kecil sekaligus kamar milik Mike Shinoda. Bersama sobat baiknya, Brad Delson (gitaris), mereka mulai merekam sampel album di tahun 1996. Di SMU, mereka bertemu dan mengajak drummer Rob Bourdon. Pada saat itu, band ini belumlah tegak berdiri.
Mike bertemu dengan DJ Joseph Hahn saat mengambil kuliah bareng di Art Center College in Pasadena. Hampir bersamaan, Brad yang sedang kuliah di UCLA berbagi apartemen dengan Phoenix, yang kemudian jadi bassist LP. Phoenix sempat hengkang sejenak dari Linkin Park setelah menyelesaikan kuliah, dan setahun kemudian kembali bergabung. Linkin Park kemudian menjadi band solid ketika Chester Bonnington ditemukan dalam sebuah audisi.
Chester-lah yang akhirnya punya ide memberi nama Linkin Park gara-gara sering melewati Lincoln Park di daerah asalnya, Arizona. Musik Linkin Park gabungan dari heavy alternative rock, hip hop, grunge metal, dan electronic flourishes. Tapi, mau disebut apa pun musiknya, mereka tidak peduli. "Musik kami adalah gabungan enam karakter dari enam pribadi yang berbeda," kata Brad Delson.
Duet vokal Chester dan Mike juga tergolong unik. Chester memiliki suara tinggi melengking, karakter vokal yang ngepop sekaligus suara geraman yang ngerock. Sedangkan Mike memiliki vokal bariton dan mampu mencapai suara rendah. Paduan kontras vokal Chester dan Mike inilah yang menjadi ciri khas Linkin Park.
Selain itu, kombinasi musikalitas Brad dan Phoenix yang lebih alternatif bergabung dengan pukulan drum Rob yang ngerock plus aura industrial dari turntable Joe Hahn membuat musik mereka seperti gado-gado. Meskipun memiliki karakter berbeda, sebisa mungkin mereka mengombinasikan diri secara alami.
"Kami ingin menyatukan musik kami tanpa terdengar dibuat-buat atau dipaksakan. Kami ingin menciptakan kombinasi yang wajar dan menjadi diri kami sendiri," kata Chester. Meski sempat dituding sebagai fotokopi grup band terkemuka Limp Bizkit, mereka juga tidak peduli. "Inilah ekspresi jujur kami," kata Joe Hahn.
Akhir 1999, mereka teken kontrak dengan Warner, dan tahun berikutnya mereka menelurkan album "Hybrid Theory". Popularitas mereka menjulang bak meteor ketika album ini memperoleh nominasi Grammy Awards sebagai "Best Rock Album" dan "Best New Artist".
"Hybrid" juga mendapat penghargaan sebagai "Best Hard Rock Performance" untuk lagu Crawling. Jutaan kopi yang terjual membuat mereka mengantongi delapan platinum. "Hybrid Theory" juga dinobatkan sebagai "Top Selling Album" di tahun 2001 dan "The 5th Best Seller" album pada 2002. Konsekuensinya, Linkin Park harus tampil di 350 konser di seluruh dunia sepanjang tahun 2001.
Juli 2002, Linkin Park mengeluarkan remix album "Hybrid" bertajuk "Reanimation" sambil membuat album mereka yang ketiga, "Meteora". Album "Meteora" yang dirilis pada 2003 tak kalah suksesnya. Meski belum sesukses "Hybrid", penjualan album ini membuat Linkin Park kembali mengantongi lima platinum. Selain itu, Linkin Park membuat album live version bertajuk "Live in Texas". Kini, sambil menjalani Meteora World Tour 2004, mereka juga sedang mempersiapkan album barunya yang kelima.



0 komentar:
Posting Komentar